PENGENALAN GEJALAPENYAKIT PENTING TANAMAN UTAMA DI LAMPUNG






PENGENALAN  GEJALAPENYAKIT PENTING TANAMAN UTAMA
DI LAMPUNG
(Laporan Praktikum Pengendalian Penyakit Tanaman)







Oleh
Dwi Saputra
1514121097
Kelompok 2


















JURUSAN AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017




                                                                                                                                                 I.          PENDAHULUAN



1.1.       Latar Belakang


Penyakit dapat muncul karena ada tanaman, patogen serta lingkungan. Ketiga faktor inilah yang disebut segitiga penyakit dimana munculnya penyakit karena tiga faktor itu. Salah satu faktor tidak ada atau tidak memenuhi syarat maka penyakit tidak akan muncul. Syarat yang harus dipenuhi oleh ketiga faktor agar muncul penyakit adalah tanaman harus peka, penyebab penyakit harus virulen dan lingkungan mendukung .
Ketika tanaman dikatakan sakit maka akan menimbulkan gejala dan tanda yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Sakitnya suatu tanaman dapat diketahui jika telah terjadi perubahan seluruh atau sebagian organ-organnya yang dapat mengakibatkan terganggunya proses fisiologis dari tanaman tersebut.    Penyimpangan yang terjadi pada tanaman dapat berupa perubahan bentuk, warna, maupun kondisi memburuk dari tanaman itu sendiri. Maka dilakukanlah praktikum Pengenalan Penyakit Penting Tanaman Utama di Lampung agar dapat membantu kita dalam mengetahui beberapa jenis penyakit, gejala, serta cara pengendaliannya.

1.2.       Tujuan


Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.        Mengetahui jenis pemyakit penting tanaman utama di Lampung
2.        Mengetahui gejala, penyebab, dan cara pengendaliannya.





II. METODOLOGI



2.1.       Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu kamera,kertas HVS dan pena.  Sedangkan bahan yang digunakan antara lain daun kopi yang terkena karat daun , dan buah kakao yang terkena busuk buah, cabai yang terkena antraknosa, gambar jamur Ganoderma sp.,gambar busuk pangkal batang lada, gambar jamur akar putih,gambar fusarium pisang, gambar layu bakteri pisang, gambar busuk hati nanas, gambarbusuk lunak nanas, gambarpatah leher, gambar bulai jagung, v akar gada, antraknosa cabai, gambar layu fusarium dan layu bakteri .

2.2.       Prosedur Kerja


Adapun prosedur kerja dalam praktikum ini antara lain sebagai berikut:
1.        Dipersiapkan alat serta bahan praktikum di atas meja praktikum.
2.        Dilakukan pengamatan terhadap spesimen yang telah disiapkan yaitu berupa tanaman yang sakit serta gambar gejala tanaman sakit.
3.        Dideskripsikan pula gejala yang nampak pada setiap spesimen atau gambar tanaman tersebut.
4.        Ditulis di kertas hvs.





III.             HASIL DAN PEMBAHASAN



3.1.       Hasil Praktikum


Berikut adalah tabel hasil pengamatan spesimen pada praktikum kali ini.
No
Gambar Mikroskopis
Gambar Makroskopis
Nama Penyakit
Nama Patogen
1.
Description: ph_palm_s
Busuk buah kakao
Phytoptora palmivora
2.
Description: 270px-Ganoderma_lucidum_01
Busuk pangkal batang kelapa sawit
Ganoderma sp.
3.
Description: jamur akar putih
Jamur akar putih
Rigidoporus microporus
4.
Description: Hemileia_vastatrix
Karat daun kopi
Hemiliea vastatrik
5.
Description: layu-fusarium
Layu fusarium pisang
Fusarium oxyssporum
6.
Layu bakteri pisang
Ralstonia solanocearum
7.
Busuk hati nanas
Phytoptora spp
8.
Busuk lunak nanas
Erwinia crysanthemi
9.

Patah leher
Pyricularia oryzae
10.
Description: Bulai jagung
Bulai jagung
Perenasclerospora maydis
11.
Akar gada
Plasmodiospora brassicae
12.
Antraknosa cabai
Gloeosporium piperatum
13.
Layu fusarium cabai, tomat dan terong
Fusarium oxysporum
14.
Layu bakteri cabai, tomat dan terong
Pseudomonas solanacearum
15.
Busuk pangkal lada
Phytoptora capsici


3.2.       Pembahasan


Berikut pembahasan mengenai penyakit tanaman, patogennya, dan gejala yang ada pada masing-masing penyakit tanaman utama yang ada di lampung.
3.2.1.   Penyakit Busuk Pangkal Batang Sawit (Ganoderma boninense)
Penyakit ini disebabkan oleh Ganoderma boninense .  Ganoderma menyebabkan gejala busuk batang atas atau penyakit upper stem rot.  Gejala penyakit busuk pangkal batang dan penyakit busuk batang atas umum ditemukan pada lokasi kebun yang sama (Susanto dkk., 2013).
Daerah pembusukan batang dari yang diamati memiliki morfologi tubuh buah Ganoderma yang relatif sama, baik bentuk dan warnanya.  Tubuh buah jamur Ganoderma dapat mencapai diameter 30 cm.  Warna permukaan atas tubuh buah berwarna kecokelatan dengan garis putih kekuningan.  Pada saat matang, bagian atas tubuh buah mengkilat.  Permukaan bawah berwarna putih suram yang terdiri atas pori tempat terbentuknya basidium berupa tabung hialin bulat dengan diameter 12 μm, basidiospora berwarna kecokelatan dengan ukuran 11 μm x 7–8 μm (Susanto dkk., 2013).
Gejala awal yang ditimbulkan oleh jamur Ganoderma boninense berupa warna daun hijau pucat, jumlah daun yang belum membuka (janur) lebih banyak dari biasanya, daun tua layu, pelepahnya mudah patah dan menggantung di sekitar batang.  Selain itu, gejala khasnya adalah busuknya pangkal batang sebelum terbentuk tubuh buah jamur.  Penampang batang yang terserang jamur ini berwarna cokelat muda dan memiliki jalur-jalur berantakan yang berwarna lebih gelap.  Pada fase lanjut, pohon yang sakit akan rebah meskipun ada juga yang masih tegak walau telah mati (Semangun, 2000).
Penyebaran jamur Ganoderma boninense menggunakan basidiospora melalui udara.  Selain menggunakan bantuan angin sebagai agens penyebar penyakit, jamur ini juga di bantu oleh serangga (Susanto dkk., 2013).
Tindakan pengendalian yang dapat dilakukan yaitu melakukan pembersihan sumber infeksi sebelum penanaman dapat dengan cara pembusukkan tunggul sawit bekas pertanaman sebelumnya.  Selain itu, dapat juga dilakukan pencegahan menularnya penyakit dalam kebun dengan upaya penebangan pohon sawit yang telah menunjukkan gejala serangan jamur tersebut, kemudian tunggul serta akar di gali dan dibersihkan (Semangun, 2000).

3.2.2.   Jamur Akar Putih Tanaman Karet (Rigidoporus lignosus)
Patogen penyebab penyakit ini adalah jamur Rigidoporus lignosus yaitu jamur saprofit penghuni tanah.  Jamur ini dapat bertahan dalam tanah dengan membentuk rizomorf.  Jika bertemu dengan akar tanaman akan berubah menjadi parasit dan  menyebabkan penyakit akar putih pada beberapa jenis tanaman.  Sekali tanah terkontaminasi oleh R. lignosus seterusnya tanah akan dihuni oleh jamur tersebut dan menjadi ancaman untuk setiap penanaman baru.  Peremajaan yang berulang-ulang akan menyebabkan akumulasi sumber penyakit akar putih dalam tanah (Basuki, 1985 dalam Hasanuddin, 2011).
Jamur akar putih sering membentuk tubuh buah pada leher akar tanaman sakit, pada tunggul, atau pada akar sakit yang terbuka.  Tubuh buah jamur mirip dengan kipas tebal, permukaan atasnya berwarna kuning jingga dan bawahnya jungga, merah, atau kecokelatan.  Jika dipotong akan nampak lapisan atas yang berwarna muda dan bawahnya berwarna cokelat kemerahan.  Terkadang jamur membentuk banyak tubuh buahyang tersususn bertingkat (Semangun, 2000).
Gejala yang ditimbulkan oleh jamur ini berawal dari daun mengusam, kurang mengkilat, melengkung ke bawah, kemudian menguning dan rontok.  Pada Pohon dewasa diikuti pula dengan matinya ranting serta akarnya busuk sehingg mudah rebah (Semangun, 2000).
Jamur akar putih menyebar melalui perantaraan rizomorf.  Jika pada jamur lain akar rizomorf hanya menjalar pada permukaan akar, jamur akar putih ini rizomorfnya dapat menjalar bebas dalamtanah, terlepasdariakar atau kayu yang menjadi makanannya (Semangun, 2000).
Pengendalian penyakit akar putih pada tanaman karet dapat dilakukan dengan kegiatan eradikasi biologi menggunakan agen hayati seperti jasad renik tanah serta antagonis.  Selain itu, dilakukan pula peremajaan tanaman karet yang telah tua, dapat pula dilakukan penanaman tanaman penutup tanah untuk mendukung jamur-jamur antagonistik tumbuh dan mencegah jamur akar putih untuk tumbuh dan berkembang (Semangun, 2000).

3.2.3.   Penyakit Busuk Buah Kakao (Phythoptora palmivora)
Phytophthora palmivora adalah spesies heterotalik yang mempunyai tipe kawin A1 dan A2 sehingga interaksi antara keduanya dapat menghasilkan spora seksual (oospora) yang berbeda dengan kedua induknya. Phytophthora palmivora merupakan patogen yang menyebabkan penyakit gugur buah dan busuk pucuk pada tanaman kelapa dan penyakit busuk buah serta kanker batang pada tanaman kakao.   Keberadaan dua tipe kawin tersebut dalam satu area berpotensi dapat menciptakan fenotipik yang lebih virulen (Goodwin et al., 1995 dalam Motulo dkk, 2007).
Koloni Phytophthora palmivora berbentuk bulat dengan pinggiran rata.  Terdapat empat bentuk sporangia ovoid, limoniform, obturbinate, dan obpyriform, panjang sporangium 40-62 μm dan lebar 28-43μm, mempunyai papila, pedicel pendek, caducous, dan model percabangan simpel simpodia (Motulo dkk, 2007).
Gejala yang ditimbulkan pada buah warnanya berubah, biasanya dimulai dari ujung buah atau dekat tangkai kemudian meluas ke seluruh buah.  Buah menjadi busuk dengan warna menghitam dan terdapat lapisan putih bertepung pada permukaan buah.  Jamur yang menginfeksi buah kakao ini biasanya bersumber dari tanah.  Jamur Phytophthora palmivora dapat terbawa oleh percikan air hujan ke buah-buah dekat tanah.  Biasanya penyebaran jamur di dominasioleh sporangium (Semangun, 2000).
Langkah pengelolaan maupun pengendalain penyakit busuk buah kakao dapat dilakukan dengan kegiatan seperti mengurangi kelembaban kebun dengan memperbaiki drainase,memangkas tanaman kakao dan pohon pelindung secara teratur, dan dengan mengendalikan gulma.  Selain itu, dapat pula dilakukan
pertahanan seresah sebagai mulsa di sekitar pangkal batang pohon, memanen buah masak secara teratur, selama musimpenghujan buah kakao dapat diberi perlakukan penyemprotan fungisida (Semangun, 2000).

3.2.4.   Layu Bakteri Pisang (Ralstonia sp.)
Ralstonia solanacearum memiliki bentuk sel batang dan bergerak dengan satu flagel.  Bakteri ini dapat bertahan di dalam tanah dan dapat cepat berkembang biak pada keadaan tanah yang lembab.  Bakteri ini dapat menginfeksi akar-akar tanaman melalui luka-luka.  Patogen ini menyerang jaringan pengangkutan air sehingga mengganggu transportasi air tanaman inang, akibatnya kelihatan tanaman menjadi layu, menguning dan kerdil, dan biasanya dalam beberapa hari tanaman akan mati (Ratmawati, 2013).
Metode penyebaran R.solanacearum mengindikasikan bahwa patogen ini sangat mudah menyebar, baik melalui benih, air, tanah, maupun serangga, sehingga sulit dikendalikan jika telah menjadi wabah (outbreak).  Bakteri ini menginfeksi akar tanaman melalui luka yang terjadi secara tidak langsung pada waktu proses pemindahan tanaman maupun luka akibat tusukan nematoda akar, dan secara langsung masuk ke dalam bulu akar/akar yang sangat muda dengan melarut dinding sel. Infeksi secara langsung lebih banyak terjadi jika populasi bakteri di tanah terdapat dalam jumlah yang tinggi.  Ralstonia. solanacearum merupakan patogen tular tanah dan dapat menyebar dengan mudah melalui bahan tanaman, alat pertanian, dan tanaman inang.  Kemampuan bakteri tanah bertahan hidup diduga sangat bergantung pada keberadaan tanaman inang (Ratmawati, 2013).
Penyakit layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum merupakan salah satu penyakit tanaman paling berbahaya yang tersebar luas di daerah tropika dan sub tropika, dan banyak menyerang tanaman pertanian di antaranya tomat, kacang tanah, pisang, kentang, tembakau dan suku Solanaceae lainnya (Persley et al., 1985 dalam Nasrun dkk., 2007).
Beberapa cara pengendalian dapat dengan penggunaan bibit yang sehat, desinfeksi air siraman, pergiliran tanaman, penggarapan tanah, dan pemupukan.  Selain itu dapat dengan sterilisasi tanah pembibitan, pencegahan masuknya patogen pada lahan yang sehat, pengendalian dengan agens hayati (Pseudomonas fluorencens) dan pestisida nabati (Ratmawati, 2013).

3.2.5.   Layu Fusarium Pisang (Fusarium oxysporum)
Penyakit ini lebih berbahaya dari pada penyakit-penyakit pisang lainnya seperti virus kerdil (bunchy top virus), penyakit layu oleh bakteri Pseudomonas solanacearum, dan penyakit darah oleh Xanthomonas celebence, karena sampai sekarang fungisida di pasaran belum mampu mengatasi penyakit yang disebabkan Fusarium ini yang banyak menyebabkan menurunnya produksi tanaman pisang. (Soenarjono, 1999 dalam Purwanti dk., 2003).
Warna koloni jamur ini merah muda, miselium putih dan banyak seperti kapas, bentuk spora agak memanjang seperti bulan sabit, dan semi bulat.  Warna klamidospora yaitu hialin. Penyebarannya dapat melalui alat-alat pertanian, dan memasuki tanaman melalui jaringan bawah tanaman yang luka atau melalui lubang alami (Purwanti dk., 2003).
Pengendalian penyakit yang dapat dilakukan adalah menanam varietas tahan, melakukan pembersihan area pertanaman, mengendalikan cacing-cacing akar (Semangun, 2000).

3.2.6.   Penyakit Bulai Pada Jagung (Peronosclerospora maydis)
Penyakit bulai pada jagung yang disebabkan oleh cendawan Peronosclerospora maydis sangat berbahaya karena tanaman yang terinfeksi patogen tersebut mengalami hambatan dalam berfotosintesis, sehingga dapat menyebabkan kegagalan panen. Di Kabupaten Kediri, Jawa Timur penurunan produksi jagung karena serangan penyakit bulai dapat mencapai 10–90% (Soenartiningsih dan Talanca, 2010 dalam Hoerussalam dkk., 2013).
Morfologi patogen berupa konidia bulat sampai oval.  Penyebaran penyakit bulai. bisa terjadi sangat cepat karena konidia dapat menyebar melalui udara, sedangkan oospora dapat tersimpan lama di tanah dan dapat menyebar melalui benih .sedangkan untuk pengendaliannya yaitu eradikasi (Hikmahwati dkk., 2011).
3.2.7 Busuk Pangkal Batang pada Lada

Jamur Phytophthora capsici adalah patogen penyebab penyakit Busuk Pangkal Batang pada lada. Penyakit ini sangat ditakuti petani karena dapat menyebar dengan cepat dan mematikan tanaman dalam waktu singkat (Manohara et al., 2005).

Kelayuan tanaman menunjukkan serangan telah lanjut. Selain itu, pangkal batang yang terserang menjadi berwarna hitam. Terdapat lendir kebiruan di permukaannya apabila keadaan lembab. Dan pada akhirnya tanaman akan mati. Serangan P. capsici pada daun menyebabkan gejala bercak daun pada bagian tengah atau tepi daun. Sepanjang tepi bercak tersebut bagian gejala berwarna hitam bergerigi seperti renda yang akan nampak jelas bila gejala masih segar.

Daun-daun sakit merupakan sumber inokulum bagi tangkai atau cabang sehat yang berada didekatnya. Infeksi pada daun biasanya terjadi setelah turun hujan. Apabila selama waktu hujan angin kencang, maka propagul P. capsici dapat terbawa dan menyebar ke daun tanaman di sekitarnya. Apabila serangan patogen terjadi pada satu tanaman dalam suatu kebun, maka dapat diperkirakan 1-2 bulan kemudian penyakit akan menyebar ke tanaman di sekitarnya. Penyebaran penyakit akan lebih cepat pada musim hujan, terutama pada pertanaman lada yang disiang bersih.

Adapun pengendalian yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut:
1.      Penggunaan Varietas Natar I  yang merupakan salah satu varietas resisten
2.      Aplikasi agen hayati Trichoderma harzianum untuk semua tanaman lada di area pertanaman
3.      Pemupukan N,P,K,Mg dengan perbandingan unsur K lebih tinggi dari N. Unsur K yang relatif tinggi akan memperkuat jaringan tanaman
4.      Sanitasi lahan
5.      Penggunaan fungisida

3.2.8 Karat Daun pada Kopi

Gejala pada daun yaitu adanya bercak terbentuk tepung berwarna jingga cerah (bright orange) yang terdiri atas urediospora jamur. Bercak tua berwarna coklat tua berwarna coklat tua sampai hitam dan mongering. Daun-daun akhirnya gugur sehingga pohon menjadi gundul . Penyakit karat daun kopi (coffee leaf rust) adalah penyakit dengan gejala nekrosa lokal. Penyakit tersebut yang disebabkan oleh jamur Hemileia vastatrix dan merupakan penyakit kopi paling penting di seluruh dunia, dan merupakan penyakit terpenting pada tanaman kopi arabika di Indonesia. Penyakit ini dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 50%. Sisi bawah daun yang terserang karat menunjukkan adanya bercak-bercak yang semula berwarna kuning muda yang akhirnya akan menjadi kuning tua (Semangun, 1990).

Jamur Hemilelia vastatrix yang dapat menginfeksi tanaman kopi lain tanpa melalui tanaman inang perantara. Jamur ini mempunyai urediospora yang semula bulat, tetapi segera memanjang dan bentuknya mirip juring jeruk. Setelah masak isinya berwarna jingga, tetapi dindingnya tetap tidak berwarna. Sisi luar yang cembung mempunyai duri, sedang sisi lainnya tetap halus, ukurannya berkisar antara 26-40 x 20-30 µm.

Siklus hidup jamur ini dimulai dengan perkecambahan urediospora melalui kuman pori – pori pada spora. H. Vastatrix bersifat parasit obligat, yang hanya dapat hidup jika memarasit jaringan hidup.Penyebaran penyakit ini melalui urediospora yang dapat dibentuk sepanjang tahun. Perkembangan penyakit dipengaruhi oleh kelembaban, spora yang telah matang dapat disebarkan oleh angin dan untuk perkecambahannya diperlukan tetesan air yang mengandung udara.

Pengendalian dapat dilakukan dengan cara berikut;
1.      Penggunaan varietas tahan atau toleran
Varietas tahan merupakan salah satu komponen pengendalian hama terpadu yang mudah diterapkan, murah dan tidak mencemari lingkungan. Varietas tanaman kopi yang dianjurkan adalah S 795, S 1934, USDA 62.
2.      Pengendalian secara biologi
Jamur Verticillium adalah hiperparasit (jamur parasiy yang dapat memarasit jamur lain) pada penyakit karat daun kopi.Urediospora H. Vastatrix berwarna putih pada pemukaan gejala karat daun. Selain itu, isolat bakteri Bacillus spp dan Pseudomonas spp yang diisolasidari pertanaman kopi organik di Brazil dilaporkan berpotensi untuk dikembangkan sebagai agens hayati dari H.vastatrix.
3.      Pengendalian secara kultur teknis
Pengendalian secara kultur teknis dilakukan dengan menyiangi gulma dua sampai tiga kali, memupuk dua kali setahun (awal dan akhir musim panen) dengan pypuk kandang dan NPK yang dosisnya disesuaikan dengan umur tanaman, memangkas tanaman (pangkas lepas panen, pangkas tunas/cabang tidak produktif dan menghilangkan tunas tunas  air), serta mengatur intensitas naungan.
4.      Karantina
Meskipun H. Vastatrix telah tersebar di dalam maupun luar negeri, namun karena adanya perbedaan dalam rasnya, sebaiknya diadakan pembatasan dalam pemasukan bahan tanaman kopi hidup di daerah ataupun negara lain.
5.      Pengendalian dengan fungisida
Fungisida yang direkomendasikan untuk mengendalikan penyakit karat daun kopi antara lain fungisida protektan yaitu oksiklorida tembaga, hidroksi tembaga mankozeb dan kaptafol, serta fungisida sistemik yaitu benomil,triadimefon, dinikonazol, heksakonazol, propikonazol dan spirokonazol.

1.2.9        Busuk hati pada nanas

Gejala awal serangan penyakit busuk hati terdapat pada pangkal daun berupa perubahan warna menjadi kuning atau coklat akibat gejala nekrotik pada pangkal daun. Bila daun dicabut mudah terlepas dari tanaman. Pangkal daun yang sudah berwarna coklat menjadi busuk dan berbau tidak sedap, sehingga tanaman menjadi mati. Pada beberapa jenis tanaman gejala yang ditimbulkan oleh Phytophthora sp. dimulai dari pangkal batang atau daun. Seperti pada tanaman kacang hijau, gejala serangan Phytophthora sp. berupa gejala hawar pada pangkal batang, kadang-kadang pada ujung batang, tanaman menjadi layu dan mati (Hardiningsih, 2011).

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Phytophthora spp yang dapat berkembang secara cepat pada kondisi tanah yang lembab. Penyakit ini memberikan kerugian yang lebih besar di tanah yang lebih kering dan lebih panas (Semangun,1991).

Upaya untuk mengatasi penyakit ini adalah menjaga kebersihan kebun terutama buang bagian tanaman yang telah membusuk. Penyemprot dengan insektisida efektif untuk hama kumbang dengan dosis sesuai anjuran. Lakukan sanitasi kebun dengan mengumpulkan buah yang terserang lalat buah dan pendam dalam tanah. Pasang perangkap umpan atraktan untuk lalat buah. Perangkap dibuat dari  bahan yang ringan dan mudah didapat, misalnya botol air mineral. Lakukan rotasi tanaman pada lahan yang sama sehingga dapat memutus siklus hidup thrips. Semprot dengan insektisida seperti Mitac 200 EC untuk hama thrips dengan dosis sesuai anjuran. Jaga kebersihan kebun. Batang nanas yang terserang hama penggerek batang harus segera dimusnahkan dengan cara dibakar atau dipendam. Jaga kebersihan kebun dengan menyiangi rumput secara rutin agar terhindar dari hama tikus. Menjaga tanah tetap kering dengan memperbaiki drainase (Pracaya, 2007).

3.2.10 Busuk lunak nanas

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Erwinia crysanthemi. Gejala yang ditimbulkan adalah daun yang mula mula berwarna hijau cerah menjadi kuning, hijau redup atau hijaut pucat. Perubahan ini disebabkan oleh rusaknya klorofil. Pengendalian yang dilakukan untuk penyakit ini adalah dengan merubah kondisi lingkungan agar tidak disukai oleh patogen, pengurangan inokulum atau aktivitas patogen, dan menangani buah dengan hati hati untuk menghindari terjadinya luka.

3.2.11 Patah leher

Penyakit patah leher disebabkan oleh jamur Pyricularuiaoryzae. Gejala yang ditimbulkan apabila padi terserang jamur ini adalah saat tanaman dalam fase vegetatif pada daun timbul bintik kecil menyerupai belah ketupat berwarna kuning dan keunguan pada bagian tengah bintik. Semakin lama bercak menjadi besar, hingga pada saat emasuki fase generatif pangkal malai membusuk dan mudah patah.

Pengendalian yang dapat dilakukan adalah :
1.        menjaga kebersihan lahan dari gulma
2.        bertanam dengan teknik tanam jajar legowo
3.        menggunakan fungisida berbahan aktif mankozeb atau difenokonazal pada perlakuan benih, fase bibit, vegetatif dan bunting (Pertiwi, 2014).

3.2.12 Akar gada

Gejala infeksi yang tampak dari permukaan tanah adalah daun-daun tanaman layu jika hari panas dan kering,kemudian pulih kembali pada malam hari, serta kelihatan normal dan segar pada pagi hari. Jika penyakit berkembang terus daun-daun menjadi menjadi kuning, tanaman kerdil dan mungkin mati atau hidup merana. Penyakit ini disebabkan oleh Plasmodiophora brassicae. Gejala yang timbul yaitu akar-akarnya membesar dan menyatu, seperti gada (alat pemukul) sehingga disebut akar gada. Tanaman yang terserang patogen akar gada tampak merana, kerdil, daun-daunnya berwarna kelabu dan lebih cepat menjadi layu (Semangun, 1991).

Pengendalian penyakit akar gada dapat dilakukan dengan pengendalian hayati, yaitu menggunakan teknik disinfestasi patogen pada lahan terkontaminasi patogen adalah melalui penanaman tanaman perangkap (trap crop). Tanaman perangkap yang digunakan yaitu caisin. Caisin (Brassica chinensis L) berpotensi sebagai tanaman perangkap patogen akar gada, karena tanaman ini rentan terhadap patogen akar gada dan dapat dipanen pada umur 25–40 hari setelah sebar benih, sehingga saat dipanen patogen belum dapat menyelesaikan proses infeksinya. Penanaman caisin sebagai tanaman rotasi 38 hari sebelum tanam kubis disertai eradikasi dengan perendaman lahan selama 14 hari memberikan hasil terbaik dalam menurunkan LBKPP dan keparahan penyakit akar gada dengan nilai efektivitas pengendalian paling tinggi, yaitu 57,78% (Hadiwiyono, 2011).

Selain itu pengendalian dengan cendawan asal tanah perakaran bambu yang dapat
menjadi endofit. Aplikasi cendawan endof it Chaetomium globosum memberikan pengaruh yang baik dalam mengendalikan penyakit akar gada pada tanaman brokoli. Ini dikarenakan C. globosum diduga menghasilkan senyawa metabolik sekunder. Salah satu senyawa metabolik sekunder yang dihasilkan oleh Chaetomium spp. adalah antibiotik (Asniah, 2013).

3.2.13    Antraknosa pada cabai

Biasanya gejala serangan penyakit antraknosa atau patek pada buah ditandai buah busuk berwarna kuning-coklat seperti terkena sengatan matahari diikuti oleh busuk basah yang terkadang ada jelaganya berwarna hitam. Sedangkan pada biji dapat menimbulkan kegagalan berkecambah atau bila telah menjadi kecambah dapat menimbulkan rebah kecambah. Pada tanaman dewasa dapat menimbulkan mati pucuk, infeksi lanjut ke bagian lebih bawah yaitu daun dan batang yang menimbulkan busuk kering warna cokelat kehitam-hitaman.

Pengendalian Penyakit Antraknosa atau Patek:
a.         Melakukan prendaman biji dalam air panas (sekitar 550 C) selama 30 menit atau perlakuan dengan fungisida sistemik yaitu golongan triazole dan pyrimidin (0.05-0.1%) sebelum ditanam atau menggunakan agen hayati.
b.        Memusnahkan bagian tanaman yang terinfeksi.
c.         Penggunaan fungisida fenarimol, triazole, klorotalonil, dll. khususnya pada periode pematangan buah dan terutama saat curah hujan cukup tinggi.. Fungisida diberikan secara bergilir untuk satu penyemprotan dengan penyemprotan berikutnya, baik yang menggunakan fungisida sistemik atau kontak atau bisa juga gabungan keduanya.
d.        Penggunaan mulsa hitam perak, karena dengan menggunakan mulsa hitam perak sinar matahari dapat dipantukan pada bagian bawah permukaan daun/tanaman sehingga kelembaban tidak begitu tinggi.
Agen hayati yang sering digunakan dalam pengendalian antraknosa adalah : Actinoplanes, Alcaligenes, Agrobacterium Amorphospongarium, athrobacter dll, dan ini biasanya bisa didapat di balai perlindungan tanaman Deptan. Namun perlu diperhatikan bila kita menggunakan agen hayati sebaiknya kita tidak menggunakan pestisida kimia, karena akan menyebabkan kematian pada agen hayati tersebut (Rukmana, 1997).
3.2.14    Penyakit layu bakteri Pada tomat

Penyakit ini disebabkan oleh salah satu bakteri yang bernama Pseudomonas solanacearum. Gejala yang terjadi jika tanaman tomat terkena serangan penyakit layu bakteri adalah tanaman akan layu karena kebutuhan air tanaman tidak bisa terpenuhi karena sistem transportasi air tanaman tomat terganggu. Tomat yang terserang penyakit layu bakteri adalah tanaman akan mengalami layu dan daun akan berwarna kuning serta bentuk tanaman akan terlihat kerdil. cara mengetahui tanaman tomat mati disebabkan oleh penyakit layu bakteri ialah memotong batang tanaman, celupkan ke dalam air beberapa menit, lendir putih keruh akan mengalir keluar. Cara mengatasi penyakit layu bakteri ini adalah dengan mencabut lalu membakar tanaman yang terserang penyakit ini agar tidak menyebar ketanaman yang lain sehingga dapat meminimalisir kerugian (Tugiono, 1999).

3.2.15    Layu fusarium pada tanaman tomat

Layu fusarium pada tomat disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Cendawan biasanya menyerang bagian akar dan batang tanaman, mengakibatkan rusaknya terhambatnya pembuluh kayu, hal ini akan mengganggu pengangkutan air sehingga mengakibatkan kelayuan secara keseluruhan pada tanaman. Toksin dan enzim yang dihasilkan oleh jamur ini dapat mengganggu fermeabilitas membran plasma sel tanaman dan merusak dinding sel pembuluh kayu akibatnya fungsi pembuluh kayu menjadi terganggu. Cendawan dapat disebarkan oleh percikan-percikan air hujan, air irigasi yang membawa tanah terinfeksi dan benih terinfeksi (Tugiono, 1999).

Untuk menangani penyakit ini dapat dilakukan dengan :
a.         Penanaman varietas tahan.
b.        Pemakaian fungisida.  Menurut hasil percobaan pencelupan akar ke dalam
Benomil 1000 ppm memberikan hasil yang baik, asal fungisida tersebut diberikan sebelum terjadi infeksi.
c.         Mengendalikan populasi nematoda.  Nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) dapat membantu infeksi bahkan dapat mengurangi ketahanan varietas tahan, sehingga populasinya di tanah perlu dikendalikan. Selain itu nematoda Xiphinema sp, Longidorus sp merupakan nematoda ektoparasit yang hidup  di dalam tanah dan hanya mengisap cairan tanaman dengan stiletnya yang dimasukkan ke dalam akar, akar yang terluka karena tusukan stilet nematode ini dapat menjadi jalan masuknya Fusarium ke dalam akar (Tugiono, 1999).








IV.             KESIMPULAN



Adapun kesimpulan yang diperoleh dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut:
1.        Penyakit penting yang menyerang tanaman utama di Lampung yaitu Busuk pangkal batang sawit, jamur akar putih pada tanaman karet, layu bakteri pisang,layu fusarium pisang, bulai jagung, busuk buah kakao , antraknosa cabai, akar gada, busuk pangkal lada, karat daun kopi, busuk hati nanas, busuk lunak nanas, patah leher, layu fusarium dan layu bakteri pada tanaman cabai, tomat dan terong.
2.        Pengendalian penyakit dilakukan untuk menekan pertumbuhan patogen penyebab penyakit pada tanaman utama di Lampung yaitu menanam varietas tahan, eradikasi, hayati, pengelolaan lingkungan dan upaya pengendalain alami.
3.      Pengetahuan mengenai bioekologi patogen diperlukan untuk mengefisienkan pengendalian penyebaran penyakit.


DAFTAR PUSTAKA



Agrios N. George. 1995. Ilmu Penyakit Tanaman . Terjemahan dari Plant Pathology.
Ir. Munzir Busnia. Gajah Mada University Press : Yogyakarta



Asniah, Widodo dan Suryo W. 2013. Potensi Cendawan Asal Tanah Perakaran
Bambu Sebagai Endofit dan agen Biokontrol Penyakit Akar Gada pada Tanaman Brokoli. Jurnal Hama Penyakit Tropika. 13(1):61-68.


Hadiwiyono, Sholahuddin dan Endang S. 2011. Efektivitas Caisin Sebagai
Tanaman Perangkap Patogen Untuk Pengendalian Penyakit Akar Gada Pada Kubis. Jurnal Hama Penyakit Tropika.11(1):22-27.


Hardiningsih, S. 2011. Phytophthora sp. Penyebab Penyakit Rebah Semai pada Kacang Hijau dan Pengendaliannya. Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. Malang.

Hasanuddin. 2011. Uji Aktivitas Antibiosis Pseudomonads Pendarfluor Terhadap Rigidoporus lignosus (Klotszch) Imazeki Penyebab Penyakit Akar Putih. Jurnal HPT Tropika Vol. 11, No. 1: 87 – 94.

Hoerussalam, A. Purwantoro, A. Khaeruni. 2013. Induksi Ketahanan Tanaman Jagung (Zea Mays L.) Terhadap Penyakit Bulai Melalui Seed Treatment Serta Pewarisannya Pada Generasi S1. Ilmu Pertanian Vol. 16 No.2, 2013 : 42 – 59.


Manohara D, Wahyuno D & Noveriza R. 2005. Penyakit busuk pangkal batang
tanaman lada dan strategi pengendaliannya. Perkembangan Teknologi
TRO 17:41-51.


Motulo, H. F. J., M. S.Sinaga, A. Hartana, G. Suastika, H. Aswidinnoor. 2007. Karakter Morfologi Dan Molekuler Isolat Phytophthora palmivora Asal Kelapa Dan Kakao. Jurnal Littri 13(3).

Nasrun, Christanti, T. Arwiyanto, dan I. Mariska. 2007. Karakteristik Fisiologis Ralstonia solanacearum Penyebab Penyakit Layu Bakteri Nilam. Jurnal Littri 13(2).



Pracaya. 2007. Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman. Penerbit Swadaya. Jakarta.


Purwanti, Suranto, R. Setyaningsih. 2003. Potensi Penghambatan Minyak Atsiri dan Ekstrak Kasar Rimpang Lempuyang (Zingiber spp.) terhadap Pertumbuhan Fusarium oxysporum Schlecht f.sp. cubense. Biofarmasi 1 (2): 58-64.

Ratmawati, I. 2013. Mengenal Lebih Dekat Penyakit Layu Bekteri Ralstonia solanacearum Pada Tembakau. POPT Perkebunan. Probolinggo.

Rukmana. 1997. Penyakit Tanaman dan Teknik Pengendalian. Kanisius. Jakarta.


Semangun, H. 1991. Penyakit-Penyskit Tanaman Pangan Penting di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.


Semangun,H. 2000. Penyakit-Penyakit Tanaman Perkebunan Di Indonesia. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Susanto, Agus. 2011. Penyakit Busuk Pangkal Batang: Ganoderma boninense
Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.

Sijabat,O. N. S. B. R. 2007. Epidemi Penyakit Blas (Pyricularia oryzae Cav.) Pada Beberapa Varietas Padi Sawah (Oryza sativa L.) Dengan Jarak Tanam Berbeda Di Lapangan. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Susanto, A., A. E. Prasetyo, H. Priwiratama, S. Wening, dan Surianto. 2013. Ganoderma boninense Penyebab Penyakit Busuk Batang Atas Kelapa Sawit. Jurnal Fitopatologi Indonesia Vol. 9, No. 4: 123–126.

Tugiono, H. 1999. Bertanam Tomat. Niaga Swadaya. Jakarta.


















LAMPIRAN



















Komentar

Postingan Populer